Monday, May 25, 2009

Pendidikan Tinggi Dan Daya Saing Bangsa


Dalam rangka menghadapi era global, maka “keunggulan kompetitif” suatu negara terhadap negara lainnya adalah menjadi faktor penentu agar mampu bertahan, berperan, dan bersaing. Globalisasi adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari.

Kampus ITS, ITS online - Dimulai dari globalisasi di tingkat regional Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 antara Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Phillipina, dan berlanjut hingga antar Blok – Blok Perekonomian Dunia (MEE, AFTA, NAFTA, MEA), maka dampak globalisasi memacu lembaga Pendidikan Tinggi termasuk ITS untuk meningkatkan kualifikasinya.

Makna Daya Saing

Frasa “keunggulan kompetitif” tersebut bisa kita terjemahkan dalam 2 (dua) hal, pertama : memenuhi kebutuhan diri sendiri (tidak tergantung kepada negara lain), dan kedua : mampu berkompetisi dalam memenuhi kebutuhan negara dan bangsa lain. Keunggulan kompetitif pertama tersebut kita sebut selanjutnya sebagai KEMANDIRIAN, sedangkan keunggulan kompetitif kedua kita sebut selanjutnya sebagai KEMANDRAGUNAAN.

Baik KEMANDIRIAN maupun KECERDIKAN sangat diperlukan dalam membangun daya saing suatu bangsa. Suatu bangsa akan berdaya saing tinggi bila bangsa tersebut MANDIRI, baik secara ekonomi maupun budaya. Artinya, segala pemenuhan kebutuhan ekonominya mampu dipenuhi oleh sumber-sumber ekonominya sendiri. Demikian juga budayanya, dimana bangsa tersebut menganut budaya-budaya berdasarkan nilai-nilai anutan (guiding value) yang tidak terinfiltrasi budaya negatif asing. Dengan demikian, maka KEMANDIRIAN membutuhkan “kesederhanaan” dan “keberanian” anak bangsa dalam mempertahankan dan memperjuangkan kekuatan ekonomi, dan budaya sendiri. Swadesi atau semangat menggunakan produk dalam negeri (buatan sendiri) yang diterapkan Mahatma Gandhi adalah salah satu contoh usaha kemandirian menghadapi perang ekonomi bangsa penjajah.

Contoh bagus dari Indonesia ditunjukkan oleh Menkes Siti Fadilah Supari , dalam hal prosedur sharing virus Flu Burung melawan dominasi lembaga penelitian virus Amerika Serikat yang berlindung dibalik WHO, dengan mengatakan : “Anda sebagai negara maju memang menguasai teknologinya, tapi kami di Indonesia memiliki virusnya dan rakyat kami yang menjadi korban. Silahkan tempelkan teknologi itu di jidat anda, apakah ia dapat menghasilkan sesuatu tanpa virus dari Indonesia”. Keberanian semacam ini adalah merupakan bibit KEMANDIRIAN untuk berbagi kekuatan ekonomi melalui penelitian teknologi yang dilakukan bersama-sama antara negara maju dengan yang belum maju. Contoh lain adalah tuntutan negara tropis di Asia, termasuk Indonesia, yang berani meminta kompensasi alih teknologi industri negara maju dalam hal penanggulangan pemanasan global, tidak sekedar mendapatkan insentif emisi , yang kemudian waktu harus mengeluarkan banyak uang ketika negara maju telah mampu menciptakan teknologi industri yang ramah lingkungan.

Bila KEMANDIRIAN telah menjadi suatu karakter dan semangat bangsa yang independen dan memiliki keberanian, maka langkah berikutnya adalah menguatkan semangat kemandirian tersebut menjadi keunggulan kompetitif yang benar-benar riil, yaitu KEMANDRAGUNAAN, suatu keunggulan daya saing yang berbasis Intelectual Capital. Bila daya saing KEMANDIRIAN membutuhkan suatu pembangunan karakter anak bangsa, maka daya saing KEMANDRAGUNAAN membutuhkan pengembangan sistem pendidikan (selain sistem kesehatan dan distribusi pendapatan nasional) yang mampu menghasilkan anak bangsa berkualitas tinggi.

Pendidikan disetiap tahapan menjadi hal penting dalam peningkatan daya saing bangsa. Pendidikan karakter untuk daya saing KEMANDIRIAN dibentuk mulai dari tahapan pendidikan Dasar hingga Menengah (DIKDASMEN), dan menjadi tanggung jawab bersama guru disekolah maupun orang tua. Pada tahapan inilah, anak bangsa dilatih agar mempunyai karakter independen dan keberanian. Pada negara-negara OEDC dengan ranking tinggi, seperti Finlandia, Jepang dan Singapore, lulusan SLTA nya telah mempunyai tingkat kemandirian tinggi, sehingga dapat dengan mudah diolah oleh Pendidikan Tinggi berikutnya.
Pendidikan tinggi sebagai bagian akhir dari proses peningkatan daya saing ini akan sangat menentukan peran dalam meningkatkan daya saing ekonomi suatu bangsa dan negara, sekaligus mengentaskan kemiskinan yang sekarang ini menjadi “program” populer negara berkembang dimanapun, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem Pendidikan Tinggi yang mampu menghasilkan lulusan yang berdaya saing global sebagaimana tuntutan skenario globalisasi (minimal ditingkat ASEAN 2015) yang tidak bisa kita hindari.

Pengembangan Kompetensi PT

Selain pembagian kompetensi lulusan yang jelas antara jalur pendidikan akademis (S1,S2,dan S3) dengan pendidikan vokasi (diploma, Poltek), maka dibutuhkan kurikulum yang menyeimbangkan antara kompetensi “hard skill” dengan “soft skill” yang mengakomodasi aspek teknis dan spirit teknopreneurship. Dalam penerapannya, kurikulum bermuatan teknopreneurship ini membutuhkan tim pengajar yang seharusnya mampu menjadi fasilitator dari pembelajaran aktif mahasiswanya. Dengan kata lain, pengajar harus di-teknopreneurkan dahulu sebelum menteknopreneurkan mahasiswanya.

Permasalahan yang terjadi dari penerapan ini adalah keyakinan dari kebanyakan pendidik bahwa “nature” dari seorang pendidik yang sifatnya melayani adalah berbeda dengan “nature” teknopreneur yang lebih bersifat profit making. Meskipun demikian, kita bisa meniru pengalaman yang diambil oleh pemerintah Singapore, dimana PT nya menyeimbangkan antara pengajaran, penelitian, dan aplikasi komersialnya. PT di Singapore selalu melakukan penelitian dengan syarat bahwa penelitian tersebut haruslah mampu dikomersialkan melalui kerjasama yang baik dengan industri (Laporan Tahunan 2004). Konsep integrasi ini diperkenalkan Singapore dengan istilah Teknopreneurship Education, yaitu mendidik mahasiswa dengan output intelektual yang layak jual dan berdaya saing tinggi.

Mengawali langkah seperti ini, maka PT bisa memulainya dengan memilih kendaraan “pengakuan internasional” nya melalui sisi kompetitif (daya saing) ekonomi negara, bukan sekedar sisi “komparatifnya” saja. Misalnya, pemilihan sastra jawa dan musik tradisional daerah tertentu sebagai kendaraan “ranking internasional” suatu PT di Indonesia memang dari sisi komparatif adalah pilihan jitu, tetapi hanya menghasilkan sedikit dampak ekonomisnya bagi daya saing bangsa. Pemilihan “renewable energi” bagi kendaraan “pengakuan internasional” PT di Indonesia yang beriklim tropis, akan lebih berdampak ekonomis dimasa mendatang meskipun dibutuhkan daya juang tinggi untuk bersaing dengan yang lain.

Pengembangan Bidang Studi Yang “Marketable”

Penyediaan bidang studi yang dibutuhkan pasar domestik hingga yang menjadi trend bagi kebutuhan pasar global adalah sangat penting untuk mencapai KEMANDRAGUNAAN . Pencapaian Visi Pendidikan Indonesia 2025 atau Visi Indonesia Emas 2050 perlu menggabungan antara “kearifan lokal”, yaitu keunikan potensi SDA daerah dengan peningkatan kapabilitas SDM. Sebagai contoh, bila suatu daerah mempunyai potensi jamu herbal dan SDM terampil yang banyak terlibat dalam industri rumahan, maka sudah selayaknya PT di daerah-daerag mengalokasikan dana risetnya untuk modernisasi dan memperkuat aspek pemasaran dari jamu herbal tersebut. Dengan demikian, maka dana riset PT tersebut akan menjadi stimulus bagi pengembangan potensi bisnis daerahnya, sesuai dengan “potensi lokal” masing-masing, sehingga pada akhirnya secara agregat akan mampu memberikan kontribusi nasional. Selain dana riset PT, maka seharusnya dana riset dari departemen-departemen teknis non Pendidikan sudah seharusnya dialokasikan melalui kerjasama penelitian PT, mengingat bahwa kompetensi penelitian adalah pada PT. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sudah melakukan hal tersebut, demikian juga dengan Departemen Perindustrian yang membangun pusat riset perkapalannya yang megah dan lengkap, yaitu NASDEC, di ITS.

Bila kita mau melakukan hal yang lebih idealis lagi, maka dimasa datang kita juga harus mulai mengembangkan bidang – bidang riset yang visioner dan sesuai kebutuhan masa depan , yaitu berupa ”newest engineering”, seperti bioteknologi, software, hardware dan elektronik, IT dan jasa Internet. Industri bioteknologi misalnya adalah merupakan bidang yang produktivitasnya tertinggi dengan nilai Profit Per Employee (PPE) rata – rata sebesar USD 278.000, sedangkan industri semikonduktor sebagai bagian dari kelompok hardware mempunyai nilai rata – rata PPE sebesar USD 268.000. Nilai PPE yang tinggi tersebut mencerminkan tingkat demand yang tinggi dengan tingkat suplai pemain di industri tersebut yang masih jarang. Nilai PPE yang tinggi secara tidak langsung akan menunjukkan tingkat produktivitas dan daya saing yang tinggi secara ekonomis, sehingga menjadi peluang bagi PT untuk menyediakan tenaga handal.
Peningkatan Kerjasama dan Kompetensi Global

Peningkatan jejaring yang lebih kuat dapat dilakukan dengan memperkuat kerjasama dengan PT ditingkat global, baik regional Asia maupun Internasional. Kerjasama ini bisa berupa pertukaran mahasiswa, kerjasama penelitian, hingga pertukaran pengajar. Kerjasama ini bermanfaat untuk meningkatkan akses penyaluran lulusan adalah karena PT Indonesia akan dikenal oleh perusahaan pengguna dari partner PT Asing tersebut. Namun perlu diingat bahwa diperlukan kesamaan “bahasa” tentang pengakuan kompetensi lulusan PT kita, yaitu melalui sertifikasi Internasional seperti Washington Accord, sertifikasi programming Java (SUN Microsystem), Axapta (ERP nya Microsoft), dan lain-lain hingga sertifikasi profesi nasional yang berlaku untuk tingkat Asia yang dikeluarkan asosiasi profesi seperti IAI (arsitektur),HAKI dan LPJK (Konstruksi) dll.

Oleh karena itu, maka sudah seharusnya PT yang kompeten di Indonesia mulai memikirkan “percepatan” sertifikasi Internasional dan memperkuat kerjasamanya dengan asosiasi profesi sebagai bagian dari penguatan jaringan maupun penguatan kompetensi lulusannya di era global, minimal untuk menghadapi tantangan eksternal kedepan dengan dimulainya liberalisasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai tahun 2015 antara Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Phillipines. Dengan KEMANDIRIAN dan KEMANDRAGUNAAN, maka kita akan mampu menjadi “pemain” dipentas global, tidak sekedar penonton. Diperlukan dukungan secara sistemik dari Negara sebagai “fasilitator sistem” dan segenap komponen bangsa (akademisi, mahasiswa, politikus, pengusaha, dll) untuk bisa mencapai harapan tersebut. Majulah negaraku, sentosalah bangsaku (PS) (15 Maret 2008)

Sumber :
Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD, Rektor ITS
http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=4464
25 Mei 2009

Sumber Gambar:
http://www.ia-itb.com/modules/event/images/WEF%2008-09_Cover.jpg

1 comment:

  1. [oot] saya
    sedikit mengomentari frasa "mandiri"
    sebenarnya ditinjau dari mampu atau tidaknya, saya yakin Indonesia mampu, sayangnya belum ada kemauan dan hanya melihat dari segi praktisnya saja, seandainya semua sadar, maka saya yakin tidak ada yang namanya import mrngimport :)

    ReplyDelete