Saturday, May 23, 2009

Kurikulum Pendidikan Nasional Banyak Muatan


Yang menjadi persoalan adalah bagaimana lulusan PT kita memiliki tingkat kecerdasan. Kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang mengantar mereka bisa mengambil inisiatif dan meningkatkan kreativitas.
Hal-hal seperti itu yang perlu ditingkatkan di Indonesia. Dalam kondisi apa pun bisa mengambil inisiatif seperti pedagang-pedagang kecil, walau mereka tertekan namun nyatanya mampu bertahan.

KETIKA academia didirikan oleh Plato tahun 387 SM, pendidikan diselenggarakan untuk menyiapkan muridnya menjadi manusia yang sempurna. Seorang manusia yang mampu bersosialisasi dengan sesamanya, mampu mengubah lingkungannya, memiliki kebijaksanaan dan yang tak kalah penting adalah mampu untuk mempertahankan hidupnya dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari perjalanan waktu kita mengetahui bahwa pendidikan atau sekolah mengalami banyak perubahan. Sarana pendidikan disediakan sebaik mungkin kendati banyak juga fasilitas pendidikan yang belum menikmatinya. Kurikulum pun disusun sedemikian rupa.

Tetapi fungsi pendidikan itu masih kekal. Bagaimana menyiapkan anak didik untuk mampu mempertahankan hidup? Akhir-akhir ini, perdebatan akan fungsi pendidikan juga diperdebatkan. Ada yang menyatakan bahwa pendidikan ditujukan untuk membekali anak didik agar mampu mencari kerja setelah lulus. Pendapat berkata bahwa pendidikan itu harus memandirikan dan memampukan anak didik untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Untuk memperbincangkan hal tersebut, bersama kita telah hadir Prof. Dr. Thoby Mutis, yang menaruh perhatian khusus tentang pendidikan kewirausahaan yang bertujuan untuk menciptakan wiraswastawan muda. Dia telah berpuluh tahun bergelut di dunia pendidikan dan sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Trisakti. Kita akan berbincang di Perspektif Baru bersama Ruddy K Gobel.
------------------

Pak Thoby, sekolah dan perguruan tinggi bermunculan di Indonesia. Ada yang berpandangan, bila begitu banyak sekolah dan perguruan tinggi maka akan timbul inflasi sarjana atau terlalu banyak lulusan PT namun lapangan pekerjaan tidak ada. Bagaimana kita seharusnya menyikapi hal ini?

Saya kira orang yang berpendidikan tinggi di Indonesia bila diperbandingkan dengan AS, Korea, atau Singapura, masih kecil. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana lulusan PT kita memiliki tingkat kecerdasan. Kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang mengantar mereka bisa mengambil inisiatif dan meningkatkan kreativitas. Hal-hal seperti itu yang perlu ditingkatkan di Indonesia. Dalam kondisi apa pun bisa mengambil inisiatif seperti pedagang-pedagang kecil, walau mereka tertekan namun nyatanya mampu bertahan.

Saya pikir jumlahnya memang banyak dan memang PT juga bertambah. Tetapi yang penting adalah relevansi dan pilihan apa yang bisa diberikan oleh PT untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Jangan menambah masalah. Bagaimana alumninya mampu menciptakan lapangan pekerjaan, bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Pendidikan kewirausahaan baru muncul lima atau enam tahun belakangan ini dan makin banyak orang yang melakukan pendidikan kewirausahaan di PT. Bukan hanya mata kuliahnya saja tapi juga mendirikan jurusan. PT menjadi komunitas di mana mahasiswa berinteraksi untuk membentuk dan membina jaringan di masa depan.

Selama ini kemampuan mahasiswa kita masih rendah. Lulus dengan IP yang tinggi, ternyata di dunia kerja tidak mampu bersosialisasi, beradaptasi, dan berkomunikasi. Apakah kurikulum kita terlalu banyak muatannya dan tidak fokus?

Ya, saya kira kurikulum kita perlu direvitalisasi, perlu perubahan. Bila kita bandingkan dengan AS, kurikulum kita terlalu banyak muatannya. Yang perlu dimunculkan adalah kurikulum yang relevan, mana yang berkaitan dengan core competency, mana yang berkaitan dengan pengembangan kreativitas, yang memacu kematangan, kesabaran dan daya tahan. Kecuali itu menjadi spesialisasinya. Jangan semuanya dicampur-baurkan. Seharusnya lebih sedikit tetapi relevan dengan kondisi di masyarakat. Misalnya pelajaran yang berkaitan dengan kemajemukan. Di mana-mana kita bertemu dengan etika kemajemukan karena masyarakat kita yang majemuk, multiculturism. Bagaimana mengatasi konflik dan itu tidak hanya bisa diberikan kepada satu dua orang tetapi juga dibutuhkan oleh banyak orang.

Hal-hal seperti itu perlu diperhatikan kecuali menjadi spesialisasi yang butuh pembelajaran yang mendalam. Misalnya master di bidang sport atau spesialisasi lainnya. Keahlian-keahlian khusus yang memang ada dibutuhkan seperti sensing (pengindraan) dalam ilmu perikanan untuk mengetahui apakah ada ikan atau tidak di satu wilayah. Kemudian kurikulum juga dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Kita telah berbincang mengenai kondisi PT di Indonesia yang membutuhkan banyak perubahan untuk meningkatkan kualitas lulusannya. Masalah lain yang mengganjal dalam sistem pendidikan kita adalah muatannya yang terlalu teoretis sedikit sekali yang mengajarkan aspek praktis. Apakah pendidikan kita juga diarah pada pemberian hal-hal yang berbau praktis?

Memang ada mata pelajaran untuk pematangan intelektual dan spiritual. Tetapi untuk yang berhubungan dengan keahlian barangkali untuk pendalaman teorinya 50% dan untuk kasus-kasus 40-50%. Ada perimbangan antara pengetahuan teoretis dan juga pengetahuan dari hasil pengamatan dan praktik. Di sini kita mulai mengadopsi problem based learning, kita mempelajari melalui kasus-kasus. Pendalaman teori ada, tetapi kemudian dimunculkan pertanyaan sesuai dengan problem based learning. Yang dipertanyakan adalah yang memiliki relevansi dengan lingkungan sekitar. Untuk mempersiapkannya kita meminta dosen-dosen untuk merumuskan problem based learning. Memang harus ada perubahan. Kalau dulu heavy theory, sekarang memang diperlukan teori tetapi untuk penajaman-penajaman dari program yang kita susun tadi, sehingga kandungannya lengkap. Sebab, ilmu itu ada theoretical knowledge, experiential knowledge, dan ada juga visionary knowledge. Ada hal-hal yang kita bisa pelajari dari teori, pengetahuan dari lapangan, namun ada juga dari pengetahuan untuk mempertajam penglihatan ke depan atau intuisi.

Teori bisa lapuk. Memang ada yang tidak, demikian juga halnya dengan kenyataan. Tetapi kenyataan di masa depan belum tentu sama dengan yang sekarang. Karena itu dosen harus mampu membuat buku yang baru, melihat sesuatu yang baru dengan memperhatikan perkembangan yang terjadi. Jadi hal seperti itu yang memunculkan kesempatan di mana antara dosen dan mahasiswa timbul kesadaran bahwa mereka berada di satu komunitas yaitu learning society. Masyarakat yang sama-sama belajar, bukan mahasiswa saja tetapi juga dosennya. Karena ilmu yang diraih dosen di masa lalu belum tentu relevan dengan masa sekarang, apalagi di masa depan. Banyak teori yang bermunculan, apalagi di bidang ekonomi maupun manajemen. Memang harus ada pembaruan diri.

Lebih fokus mengenai pendidikan kewirausahaan. Dari pengalaman Pak Thoby sendiri apakah pengajaran kewirausahaan cukup relevan atau perlu dievaluasi?

Sistem tersebut tentu saja setiap saat perlu dievaluasi. Seperti buku yang saya tulis mengenai kewirausahaan perlu diperbarui seperti contoh kasus dan muatannya karena perkembangan waktu. Di Indonesia banyak yang tidak puas dengan teori-teori dari Barat sehingga kita menuliskan juga tentang bagi hasil, profit sharing, process sharing. Kebetulan saya sejak kecil saya sudah terlibat usaha bagi hasil dengan ayah saya, nenek, maupun dengan anak saya. Sehingga teori-teori yang berkaitan dengan yang hidup di masyarakat yang bisa dilihat dari pengalaman masa lampau. Bila di Indonesia kita menyebutnya dengan syariah bagi hasil di Amerika disebut kodeterminasi atau determinasi bersama. 54 % saham Microsoft itu dimiliki buruhnya sehingga tidak ada pemogokan.

Kemudian bagaimana mahasiswa itu berusaha untuk mandiri. Saya selalu menyatakan kepada mereka agar mencoba berusaha pada sore hari bila kuliah di pagi hari. Melakukan hal berguna untuk menambah pengalaman dan kematangan. Kuliah sembari kerja atau kerja sembari kuliah, itulah yang perlu kita tanamkan. Dengan demikian kita diajar juga untuk menghargai waktu.

Aspek-aspek apa saja yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa dalam belajar kewirausaan?

Yang penting bila berwirausaha adalah berani mengambil inisiatif kemudian bagaimana melakukan koordinasi. Kebiasaan dan pengalaman memimpin akan terbiasa melakukan koordinasi, mengambil keputusan, juga meramalkan apa yang terjadi ke depan. Menjadi pengusaha itu harus punya mimpi. Mimpi yang relevan. Tetapi hal yang paling penting adalah kesederhanaan dalam hidup atau the power of simplicity. Menjadi wirausahawan itu harus benar-benar menjadi orang yang ulet. Bila punya uang tidak digunakan untuk berfoya-foya tetapi untuk menabung. Kemudian muncullah ekonomi tabungan. Bagaimana yang usaha kecil dipelihara dan dan dikembangkan. Kita menekannya kepada mahasiswa untuk memulai dari yang kecil-kecil seperi kios atau warung. Small is beautifull, greater is better. Setelah mandiri kemudian bergabung menjadi besar tetapi dengan kondisi yang lebih bagus.

Apa yang Anda dulu lakukan untuk meyakinkan bahwa pendidikan kewirausahaan itu perlu?

Ketika saya pertama kali di Trisakti, saya berdiskusi dengan kalangan wartawan mengenai berbagai hal termasuk tentang kewirausahaan. Kemudian saya memutuskan untuk menerbitkan buku kendati saat itu belum ada mata kuliahnya. Dasar inilah yang kita gunakan untuk memulai mata pelajaran kewirausahaan baik untuk mahasiswa S1 maupun S2. Saya kebetulan memiliki pengalaman dengan membina sekitar tujuh ribu pengusaha kecil di sekitar Jakarta Barat yang bergabung dalam Koperasi Kodanua. Saya sering berinteraksi dengan mereka. Pengalaman mereka kita jadikan kasus-kasus dalam perkuliahan. Kemudian dalam pelaksanaan KKN atau penerapan ilmu dan teknologi sebelum ke lapangan kita bekali kewirausahaan.

Hal-hal seperti ini yang kita kembangkan secara perlahan. Kita merasa bahwa mahasiswa tertarik dengan itu, bahkan ada yang menjadikan kampus sebagai pembangunan jaringan di masa depan. Banyak lulusan kita yang begitu lulus langsung berusaha seperti bengkel. Kita melihatnya sebagai suatu kebangkitan dan kita bersyukur bahwa dengan adanya mata pelajaran ini mulai memberikan pencerahan kepada mahasiswa. Kebetulan kita memiliki kerja sama dengan koperasi-koperasi yang anggotanya adalah pedagang atau pengusaha kecil. Dan mereka yang paling tahan selama krisis.

Namun permasalahan penting yang tak kalah memusingkan adalah permodalan. Bagaimana mengatasi hal ini?

Permodalan memang sangat penting. Anggota Koperasi Kodanua yang merupakan pedagang kecil dan pengusaha kecil itu mereka membiasakan diri menabung. Sepuluh ribu saja sehari, maka dalam setahun akan terkumpul sekitar tiga setengah juta. Karena semua anggota melakukannya, uang yang terkumpul mencapai Rp 100 milyar dan mereka sekarang memiliki 12 kantor. Inilah yang disebut dengan internal financing. Sebenarnya pinjaman itu sebagai pelengkap saja. Modal yang kedua adalah kepercayaan. Pada saat ini yang hilang di negara kita adalah kepercayaan. bagaimana membangun kepercayaan itu yang kita bekali dari dini. Kekurangannya modal kita dapatkan dari pihak eksternal seperti bank. Tetapi sifatnya sebagai pelengkap saja. Untuk mendorongnya perlu peranan pemerintah sejak sekarang. Perayaan-perayaan dibuat sesederhana mungkin, pejabat tidak memakai mobil-mobil mewah.

Keterampilan lain yang harus dimiliki oleh mahasiswa adalah kemampuan beradaptasi. Mahasiswa mampu menghadapi perubahan. banyak yang tidak siap dengan perubahan lingkungan. Tetapi perubahan juga perlu dimunculkan karena dari perubahan itu sendiri kita memulai sesuatu yang baru dan lebih berguna. Mengantisipasi perubahan dan menyesuaikan perubahan itu sangat perlu.

Sumber :
http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2003/7/28/f1.htm
23 Mei 2009

Sumber Gambar :
http://www.rujakmanis.com/gallery2/d/4016-1/Aming+sarjana.jpg

No comments:

Post a Comment